Sabtu, 07 April 2012

ideologi pancasila



IDEOLOGI PANCASILA

Di Susun Untuk Memenuhi Tugas Filsafat Pancasila yang Dibimbing
Oleh: Bpk. Musatakliman.
Oleh:
Moch Nur Zaini




JURUSAN AL-AKHWAL AL-SYAKHSIYAH
FAKULTAS SYARI’AH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK
 IBRAHIM MALANG
2011/1012



KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah  kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Kami senantiasa bisa terus menyelami “indah” nya ilmu pengetahuan di Universitas Islam Negeri Malang tercinta ini.
Sholawat bertabur salam tercurah selalu kepada baginda besar Nabi Muhammad SAW. Revolusioner islam, pembawa risalah Al-Qur’an “al-amien” sehingga kita masih bisa merasakan betapa “Diinul islam”  benar-benar agama yang terbaik di dunia dan merupakan kekuatan sentral daripada pergerakan nalar dan fikiran untuk bisa menjadi muslim yang kaffah. 
Dalam kesempatan ini tidak lupa saya ucapkan banyak terima kasih kepada Bapak  Musatakliman  Selaku dosen pembimbing dan kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini tentunya tidak lepas dari kekurangan dan kelemahan sehingga saran dan kritik diharapkan untuk menambah dinamika pemikiran Islam yang saat ini mulai tampak lemah di tengah – tengah kehidupan bermasyarakat. Semoga amal baik kita semua dalam memberikan kontribusi bagi bangkitnya pemikiran Islam di tengah masyarakat menjadi investasi akhirat dengan keridhoan-Nya tentunya.
Akhir kata, Saya ucapkan terima kasih dan mohon ma’af apabila ada kekurangan atau kesalahan dalam mengerjakan tugas ini.

Malang, 3 Oktober 2011




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ideologi Pancasila merupakan dasar Negara kita Bangsa Indonesia yang dalam pembentukannya tidak terjadi begitu saja, dan bukan hanya diciptakan oleh seseorang sebagaimana yang terjadi pada idelogi-ideologi lain di dunia, namun terbentuknya Pancasila melalui proses sejarah yang cukup panjang.
Secara kualitas, sebelum Pancasila disahkan menjadi dasar Negara nilai-nilainya telah ada dan berassal dari bangsa indonesia sendiri yang berupa nilai-nilai adat-istiadat, kebudayaan dan nilai-nilai religius. Kemudian para pendiri Negara Indonesia mengangkat nilai-nilai tersebut dan dirumuskan secara musyawarah mufakat berdasarkan moral yang luhur antara lain dalam sidang BPUPKI pertama, sidang panitia sembilan. Yang kemudian menghasilkan “piagam jakarta” yang memuat Pancasila kemudian dibahas lagi dalam BPUPKI kedua.
Sebelum sidang resmi PPKI Pancasila sebagai calon dasar ideologi Negara yang akhirnya pada tanggal 8 agustus 1945 disahkan oleh PPKI sebagai dasar Ideologi Negara.














B.     Rumusan Masalah
1.                  Apa yang dimaksud dengan Ideologi Pancasila?
2.                  Apa Fungsi Pancasila sebagai Sistem Negara?
3.                  Apa Fungsi Pancasila sebagai Ideologi Negara?
4.                  Apasajakah Nilai-Nilai Pancasila?
5.                  Apa saja komitmen dalam pelaksanaan Pancasila?

C.    Tujuan
1.                  Mengetahui Ideologi Pancasila
2.                  Mengetahui Fungsi Pancasila sebagai Sistem Negara.
3.                  Mengetahui Fungsi Pancasila sebagai Ideologi Negara.
4.                  Mengetahui nilai-nilai Pancasila.
5.                  Mengetahui komitmen pelaksanaan nilai-nilai Pancasila.













BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN IDEOLOGI
Ideologi adalah berasal dari dua kata yaitu idea dan logos, yang berasal dari bahasa yunani yaitu eidos dan logos.Secara sederhana ideologi berarti suatu gagasan yang berdasarkan pemikiran yang sedalam-dalamnya dan merupakan pemikiran filsafat.Dalam arti luas istilah ideologi dipergunakan untuk segala kelompok cita-cita, nilai-nilai dasar, dan keyakinan-keyakinan yang dijunjung tinggi sebagai pedoman normatif.Dalam artian ini disebut juga ideologi terbuka.Dalam arti sempit ediologi adalah gagasan atau teori yang menyeluruh tentang makna hidup dan nilai-nilai yang menentukan dengan mutlak bagaimana manusia harus hidup dan bertindak.Dalam artian ini disebut ideologi tertutup.
Ideologi juga diartikan sebagai ajaran, doktrin, teori, atau ilmu yang diyakini kebenarannya, yang disusun secara sistematis dan diberi petunjuk  pelaksanaannya dalam menanggapi dan menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.Suatu pandangan hidup akan meningkat menjadi suatu falsafah hidup, apabila telah mendapat landasan berfikir maupun motivasi yang lebih jelas sedangkan kristalisasinya kemudian membentuk suatu ediologi yang akan membedakan ideologi suatu bangsa dengan bangsa lain.
Dewasa ini ideologi telah menjadi suatu pengrtian yang kompleks. perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan terjadinya pembedaan yang makin jelas antara ideologi, filsafat, ilmu, dan teologi. Ideologi dipandang sebagai pemikiran yang timbul karena pertimbangan kepentingan.ideologi dipandang sebagai belief system, sedangkan ilmu, filsafat, maupun teologi merupakan pemikiran yang bersifat refleksif, kritis, dan sistematik.Dimana pertimbangan utamanya adalah kebenaran pemikiran, karena perbedaan itu ideologi disebut sebagai suatu sistem pemikiran yang bersifat tertutup.
Dalam perkembangan itu ediologi mempunyai arti yang berbeda.pertama, iedeologi diartikan sebagai weltanschuung, yaitu pengetahuan yang mengandung pemikiran-pemikiran besar, cita-cita besar mengenai sejarah, manusia, masyarakat, negara (science of ideas). Kedua, ideologi diartikan sebagai pemikiran yang tidak memperhatikan kebenaran internal dan kenyataan empiris, ditunjukkan dan tumbuh berdasarkan kepentingan tertentu dan karena itu ediologi cenderung bersifat tertutup. Ketiga, ideologi diartikan sebagai suatu belief system dan karena itu berbeda dengan ilmu, filsafat, atupun teologi yang secara formal merupakan suatu knowledge system (bersifat refleksif, sistematis, dan kritis)

B.     FUNGSI PANCASILA SEBAGAI SISTEM NEGARA
            Fungsi pancasila sebagai dasar Negara adalah sebagai dasar Negara yang menjadi dasar, pedoman, maupun landasan bernegara RI akan memudahkan dalam  memberikan jaminan atas stabilitas dan kelestarian jalanya Negara RI. Selain itu juga berfungsi memberikan jaminan dan kestabilan seperti tegaknya tatanan hukum sehingga dapat mengawasi dan mendeteksi terhadap kemungkinan terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan pembangunan nasional akhirnya akan dapat mendukung pengembalian kepercayaan dalam keyakinan masyarakat terhadap terlaksanakannya pemerintahan yang baik dan stabil serta tegaknya tatanan hukum dalam Negara RI.
C.    FUNGSI PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA
            Fungsi pancasila sebagai idologi Negara adalah sebagai keseluruhan pandangan, cita-cita maupun keyakinan dan seluruh nilai-nilai bangsa Indonesia secara normatif. Perlu diwujudkan dalam hal kehidupan berbangsa dan bernegara guna menjunjung tercapainya suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Selain itu berfungsi sebagai dasar Negara yang dapat memberikan motivasi atas keberhasilan Negara serta dapat tercapainya suatu cita-cita atau tujuan nasional yang juga merupakan cita-cita proklamasi RI yaitu suatu masyarakat yang adil dan makmur, hidup berdampingan dengan Negara-negara di dunia berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi bdan keadilan sosialdalam Negara RI.

D.    NILAI-NILAI PANCASILA
          Dalam pedoman penghayatan dan pengalaman Pancasila, Ekaprasetia Pancakarsa, Nilai-Nilai Pancasila dirumuskan dalam beberapa butir (4, 8, 5, 7, dan 12). Sebenarnya nilai-nilai ini tidak terbatas dan perlu diungkapkan ke permukaan di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara. Masih banyak nilai-nilai yang memerlukan penggalian dan perlu diangkat ke permukaan.
          Adapun ke-36 butir sebagaimana tersebut di atas adalah sebagai berikut ini:
1.      Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
a.       Percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
b.      Hormat menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga terbina kerukunan hidup.
c.       Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
2.      Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
a.       Mewujudkan persamaan derajad, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
b.      Saling mencintai sesama manusia.
c.       Mengembangkan sikap tenggang rasa.
d.      Tidak semena-mena terhadap orang lain.
e.       Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
f.       Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
g.      Berani membela kebenaran dan keadilan.
h.      Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.
3.      Sila Persatuan Indonesia
a.       Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa  negara di atas kepentingan pribadi atas golongan.
b.      Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
c.       Cinta tanah air dan bangsa.
d.      Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika.
4.      Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
a.       Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
b.      Tidak memaksa kehendak orang lain.
c.       Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
d.      Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
e.       Dengan iktikad baik dan rasa tanggungjawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
f.       Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
g.      Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
5.      Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
a.       Mengembangkan perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
b.      Bersikap adil.
c.       Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
d.      Menghormati hak-hak orang lain.
e.       Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
f.       Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
g.      Tidak bersikap boros.
h.      Tidak bergaya hidup mewah.
i.        Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
j.        Suka bekerja keras.
k.      Suka menghargai hasil karya orang lain.
l.        Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

E.     KOMITMEN DALAM PELAKSANAAN NILAI-NILAI PANCASILA
Dalam pembicaraan kita mengenai Pancasila, sebagai ideologi Negara kita, sampailah saatnya kita memperhatikan tentang pelaksanaan dari pada Pancasila.
 Apakah hanya cukup berhenti ketika kita mengetahui arti pancasila itu?
Apakah Pancasila itu kita biarkan hanya sebagai dasar Negara kita?
Sebenarnya sudah dapat kita ambil kesimpulan dari pengertian Pancasila itu sendiri yaitu Pancasila sesuatu yang tidak boleh hanya tinggal diangan-angan karena Pancasila mempunyai peran dan arti penting dalam pelaksanaan ideologi Negara sebagai inti dasar pedoman yang tetap.
            Ambillah sebagai contoh soatu benda yang sangat kita kenal dan benda mutlak kita butuhkan dalam kehidupan kita, yaitu air. Di dalam kehidupan kita menggunakan air tidak dalam bentuk yang sama, tergantung pada ke[erluan dan tujuan kita. Terkadang dalam bentuk cair yang kita sebut air, terkadang dalam bentuk padat yang kita sebut es, dan kadang-kadang dalam bentuk uap.
            Begitu pula diumpamakan isi dari Pancasila, sedangkan pelaksanaannya tergantung pada pada kebutuhan dan tujuannya yang dapat disamakan dengan es yang untuk berbagai macam, air dalam keadaan berbagai suhu dan uap. Akan tetapi ada perbedaan dasar yaitu, air dapat menjelma dalam bebagai bentuk karena pengaruh dari berbagai suhu. Lain halnya dengan Pancasila yang tidak dapat menjelmakan diri, akan tetapi penjelmaannya dalam bentuk pelakasanaan yang harus diselenggarakan oleh kita sebagai bangsa Indonesia.
            Ada satu hal yang sangat pnting dalam  pelaksanaan Pancasila yaitu, wajib bagi kita bangsa Indonesia untuk selalau taat dan meresapi dalam hati sanubari kita sebagai kesadaran, sehinngga kita selalu dalam keadaan sadar dalam melaksankan Pancasila. Wajib taat dari warganegara adalah wajib mutlak, dan demikianlah juga terhadap Pancasila, sebagai dasar ideologi Negara kita. Karena soal ketaatan ini syarat mutlak dari berlangsungnya Negara, maka dengan sendirinya perlu sekali ada jaminan sepenuhnya, apa bila perlu harus dipaksa secara teratur.
Terdapat ketentuan hukum yang demkian dalam Negara kita, dan tidak saja dalam satu macam sifat. Terdapaynya di dalam UUD dan juga dalam pembukaan UUD. Macam yang rupa ialah dalam wujud ketaatan hukum, ketaatan religius, dan ketaatan ethis, moral atau susila.
Ketaatan hukum terdapat pada pasal 27 ayat (1) UUD yang menentukan bahwa “segala warganegara,,,,,wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan,,,,,,,dengan tidak ada kecualii”.
Ketaatan religius terdapat pada pasal 29 UUD yang menentukan bahwa “Negara berdasar atas Ketuhanan yang Maha Esa,,,,,,,,,,,(dan) menamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadat menurut kepercayaannya itu”.
Adapun ketaatan yang ethis tersimpul dalam Pancasila sendiri, yaitu dalam sila yang kedua “kemanusiaan yang adil dan beradab” lagi pula tersimpul dalam pembukaan UUD, bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa yaitu hak susila, hak moaral.
Maka dengan demikian lengkaplah ketaatan dan menjadi kuatlah ketaantan, yang diharapkan dari kita segenap bangsa  untuk melaksanakan Pancsila sebagai dasar ideologi guna merealisasikan tujuan revolusi kita atas amanat penderitaan rakyat. Seperti diketahui, tujuan revolusi Negara kita  itu berupa tiga kerangka, yaitu membentuk Negara Republik Indonesia yang berbentuk Negara kesatuan dan Negara kebangsaan, masyarakat yang adil dan makmur, serta membentuk spiritual kekeluargaan menuju pedamaian dunia yang sempurna.
Apa bila kesadaran akan kewajiban untuk melaksanakan Pancasila dan kesadaran melekat pada diri kita maka kita menjadi mempunyai kepribadian pancasila. Kepribadian Pancasila adalah kepribadian kebangsaan indonesia.
Karena sebagaimana kita ketahui, silla-sila dari Pancasila itu bukannya ciptaan baru yang terjadi pada proklamasi kemerdekaan kita, akan tetapi berasal dari kehidupan bangsa indonesia sepanjang masa.





BAB III
KESIMPULAN


Secara sederhana ideologi berarti suatu gagasan yang berdasarkan pemikiran yang sedalam-dalamnya dan merupakan pemikiran filsafat.Dalam arti luas istilah ideologi dipergunakan untuk segala kelompok cita-cita, nilai-nilai dasar, dan keyakinan-keyakinan yang dijunjung tinggi sebagai pedoman normatif.
Fungsi pancasila sebagai dasar Negara adalah sebagai dasar Negara yang menjadi dasar, pedoman, maupun landasan bernegara RI akan memudahkan dalam  memberikan jaminan atas stabilitas dan kelestarian jalanya Negara RI.
Fungsi pancasila sebagai idologi Negara adalah sebagai keseluruhan pandangan , cita-cita maupun keyakinan dan seluruh nilai-nilai bangsa Indonesia secara normatif.
Sebenarnya nilai-nilai ini tidak terbatas dan perlu diungkapkan ke permukaan di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara. Masih banyak nilai-nilai yang memerlukan penggalian dan perlu diangkat ke permukaan.
Pelaksanaan Pancasila tergantung pada kebutuhan dan tujuannya dan  Pancasila yang tidak dapat menjelmakan diri, akan tetapi penjelmaannya dalam bentuk pelakasanaan yang harus diselenggarakan oleh kita sebagai bangsa Indonesia.






DAFTAR PUSTAKA
Natonagoro. 1997. Pancasila secara ilmiah populer. Jakarta: Bumi Aksara.
Kaelan. 2001. Pendidkan pancasila. Yogyakarta: Paradigma.
Syarbaini, syahrial. 2004. Pendidikan pancasila diperguruan tinggi. Bogor: Ghalia Indonesia.
Hamdani, Arif. 1999. Filsafat pancasila. Jakarta: Bulan Bintang.

perdamaian dunia


Pengertian perdamaian dunia
Damai memiliki banyak arti: arti kedamaian berubah sesuai dengan hubungannya dengan kalimat. Perdamaian dapat menunjuk ke persetujuan mengakhiri sebuah perang, atau ketiadaan perang, atau ke sebuah periode di mana sebuah angkatan bersenjata tidak memerangi musuh. Damai dapat juga berarti sebuah keadaan tenang, seperti yang umum di tempat-tempat yang terpencil, mengijinkan untuk tidur atau meditasi. Damai dapat juga menggambarkan keadaan emosi dalam diri dan akhirnya damai juga dapat berarti kombinasi dari definisi-definisi di atas.
Itu berarati perdamaian dunia bisa diartikan suatu persetujuan dunia yang sepakat untuk menghentikan peperangan, dan menjaga kedamaian tersebut bersama-sama, untuk menciptakan suasana yang tenang dan damai pada dunia.

 Pola Pikir bangsa indonesia

Seiring jalannya sejarah bangsa in The Founding Father kita Bung Karno pernah mengatakan “Revolusimu belum selesai!”, maka dari itu mendesaklah dalam waktu sekarang ini untuk membentuk dan menggali kembali pola-pikir yang sudah terkontaminasi virus-virus yang merusak dan mengubur kembali Pancasila sebagai budaya lokal "gotong-royong" dan nilai-nilai The Founding Fathers sebagai jati diri bangsa ini. Membangun karakter kehidupan berbangsa yang lebih baik harus dimulai dari pola pikir, terutama dalam menumbuh kembangkan nilai-nilai luhur kemanusiaan termasuk kesadaran terhadap arti penting pembangunan watak karakter moral bangsa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam seluruh aspek wawasan nusantara "IPOLEKSOSBUDHANKAM" demi tercapainya kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Adapun Virus-virus yang menyerang dari pemikiran yang merusak moral-moral dan sendi-sendi Pancasila itu adalah :

1. "Virus fundamentalis agamis" dimana masing-masing agama menunggalkan kebenarannya masing-masing dan cenderung mengarah ke fanatisme agama yang justru saling bermusuh-musuhan bukannya membuat perdamaian di bangsa yang paling heterogen ini.
2. "Virus Kelirumologi" yaitu sebuah virus yang sering membuat salah kaprah dalam memahami gejala-gejala sosial dalam masyarakat seperti sikap yang suka bergunjing dan bergosip dianggap kebiasaan, hedonisme yang merupakan dasar alasan koruptor menjadi sebuah keharusan oleh karena tuntutan pergaulan dengan materi dan jabatan sebagai tolak ukur dalam bermasyarakat.
3. "Virus Neo-Imperialisme" yaitu virus yang membuat bangsa ini merasa “bangsa kambing” dan merasa Inlander terhadap bangsa lain. Tetapi ingatlah kata Bung Karno “siapa yang bisa merantai suatu bangsa, kalau semangatnya tak mau dirantai? siapa yang bisa membinasakan suatu bangsa kalau semangatnya tidak mau dibinasakan?”, dan juga kata Bung Hatta “ Lebih suka kami melihat Indonesia tenggelam kedasar lautan, daripada melihatnya sebagai embel-embel abadi pada Negara asing” Begitulah pesan-pesan untuk menginsyafi nasionalisme oleh Bung Karno dan Bung Hatta sebagai The Founding Fathers bangsa ini.
4. "Virus Individualisme" yang menggerus rasa perikemanusiaan yang melupakan bahwa kita adalah makhluk sosial sehingga justru membentuk perilaku manusia yang acuh tak acuh dan sangat mementingkan dirinya sendiri sehingga tidak bisa lagi merasakan penderitaan saudara sebangsa dan setanah airnya yang menderita akibat kemiskinan,
5. "Virus Pragmatisme" dimana virus ini akhirnya akan menunggalkan kebenarannya masing-masing akibat pragmatisme berpikir ini menimbulkan kebenaran yang satu tidak menghargai kebenaran yang lainnya dan sering kali kekecewaan atas kebenarannya yang tidak diterima justru menimbulkan kerusuhan yang membuat perpecahan, pertengkaran yang memakai topeng suku-suku,agama-agama yang sangat meresahkan masyarakat.



Jumat, 06 April 2012


PMII UIN Malang Jadikan Penulis Handal
Moch. Nur Zaini
Anggota PMII Rayon Radikal Al- Faruq
Jurusan Al- ahwal as-Syakhsiyyah
Fakultas Syariah.
UIN Maliki  Malang.
Salah satu organisasi ekstra di UIN malang yaitu PMII rayon”RADIKAL” Al faruq kemarin minggu (01-04-2012) mulai jam 08.00-20.00 WIB mengadakan pelatihan kejurnalistikan, yang diikuti puluhan  mahasiswa rayon radikal alfaruq, Kegiatan ini dipusatkan di wisma kali metro.
Peserta pelatihan kejurnalistikan ini diberi pengetahuan seputar kejurnalistikan dan langsung praktek di masyarakat, salah satu sasarannya di pasar dinoyo. Mereka disebar diberbagai penjual untuk di wawancarai, sebagai media percobaan awal bagi mereka.
Anggota pelatihan kejurnalistikan  yang berlatar belakang penggiat berbagai kegiatan ekstra maupun intra di uin maliki malang. Tidak heran antusiasme peserta pelatihan kejurnalistikan terasa tinggi sejak pembukaan hingga penutupan.
Berbagai materi yang disampaikan selama pelatihan ini cukup kompleks. Diantaranya bagaimana cara menjadi penulis handal, cara menulis yang baik, cara memperoleh berita, strategi mencari berita sampai menulis hasil liputan .
Tim pelatihan kejurnalistikan memberikan materi satu demi satu, sehinga peserta terasa terbantu  walau tidak mengenal dunia kejurnalistikan sebelumnya. Dua pemateri yang disiapkan oleh panitia, Ahmad Makki Hasan (mahasiswa program pascasarjana UIN malang ), Drs,H. Muhammad Zen, MM (jurnalis televise nasional MNC grup (RCTI,TPI dan global TV), penulis buku NU Pasca Khittah, Prospek Ukhuwah Dengan Muhammadiyah, Gus Dur Kiai Super Unik dll).
Menurut Muhammad Zen ‘’menulis adalah salah satu alternatif  menjadikan orang sukses tanpa biaya’’,ujarnya. Kegiatan yang sangat nyantai untuk mengisi kekosongan waktu, hanya bekerja 2 jam menulis didepan laptop sudah mendapatkan view yang cukup banyak. Dari situ para peserta kejurnalistikan termotifasi untuk menjadi penulis handal.
Panitia mengharuskan peserta pelatihan kejurnalistikan untuk membuat karya tulis tentang  terselenggaranya kegiatan itu, guna mengecek kemampuan para peserta setelah diberi materi. Muhammad Haris selaku ketapel dari kegiatan ini, mengatakan’’kegiatan ini diadakan untuk memotifasi betapa pentingnya dan berharganya waktu yang terbuang hanya untuk bermain-main saja, lebih baik digunakan menulis.’’ujarnya.





5 Langkah mudah meraih kesuksesn1.tetapkan dalam pikiran anda bentuk pasti dari kesuksesan yang anda inginkan2.pastikan dengan tepat sesuatu yang anda berikan sebagai ganti untuk kesuksesan yang anda inginkan3.tetapkan waktu untuk meraih kesuksesan yang anda inginkan.4.buat rencana yang  matang untuk melaksanakan pencapaian kesuksesan anda tersebut.5.anda sudah harus siap untuk melakukan rencana tersebut,........LAKUKAN AKSIIII!!!!!!!!

Sarjana Muda (S1) Bukan Jaminan
Dinoyo (1/4), Bertahun-tahun menempuh pendidikan, diawali dari pendidikan tingkat SD, hingga perguruan tinggi telah dijalani. Sarjana Muda (S1) bukan jaminan untuk kehidupan yang lebih baik. Realita saat ini, banyak sekali para sarjana muda yang berprofesi tidak sesuai dengan keahliannya, bahkan lebih parah lagi banyak para sarjana muda menganggur.
Hal inilah menjadi pertanyaan besar dalam kehidupan social saat ini. apakah  mereka yang menempuh bangku perkuliahan tidak sungguh-sungguh…? atau mereka salah niat dari awal…? Dan yang terpenting permasalahan saat ini adalah Lebih penting manakah antara belajar atau bekerja….? Para pemuda bangsa saat ini, ketika sudah disodorkan permasalahan materi (ekonomi) akan merasa terbebani.
Munir penduduk kecamatan Bantur kota Malang harus bersusah payah menghidupi keluarganya. Pria ini sebagai  salah satu alumi perguruan tinggi ternama di kota Malang merasakan betapa susahnya menanggung beban hidup. Menurut dia, memang benar  sarjana muda (S1) bukan jaminan dalam meniti kehidupan lebih mapan. saat ini dia bekerja sebagai penjual mie pangsit di pasar dinoyo. Melihat dari latar belakang pendidikannya, sebenarnya tidak pantas jika seorang sarjana muda seperti munir harus bekerja keras untuk menghidupi keluarganya dengan menjual mie pangsit. Dimana ilmu, pengalamana yang telah ia perolah bertahun-tahun dibangku pendidikan.
Dalam sejarah profesianya dia hanya berkecimpung di dunia makanan. Mulai penjual bakso, pedagang kaki lima juga pernah ia jalani, dan hingga akhirnya sekarang sebagai penjual mie pangsit. Dalam menjalani profesinya selama 17 tahun, dia sering kali mengalami berbagai masalah yang memang wajar dialami penjual makanan sepertinya. Diantaranya, seringkali dagangannya tidak habis terjual di waktu-waktu tertentu.
Istrinya pun sebagai salah satu alumni POLTEK, pada kenyataannya tidak berprofesi sesuai dengan keahliannya. Istrinya saat ini berprofesi sebagai guru ngaji.
Dari berbagai kasus (masalah) diatas, ternyata menempuh pendidikan di perguruan tinggi tidak selamanya menjamin kesuksesan sesuai dengan gelar keahliannya. Niat awal dalam menempuh pendidikan menjadi pondasi yang harus ada dan kuat. Sehingga kita akan siap  menempuh kehidupan yang akan kita jalani. Apapun yang akan terjadi.
Kita sebagai pemuda harapan bangsa, dibebani untuk memecahkan beberapa kasus yang telah terjadi, yang terlebih penting permasalahan mau dibawa kemana para lulusan sarjana-sarjana yang telah di diwisuda oleh blokiiiijeberapa kampus di Negara ini. Tetap semangat wahai generasi bangsa…
Ditulis oleh:
-       Nur Zaini
-